Senin, 23 April 2012

Fenomena Budaya Tana Toraja

Posted by Taketo on Senin, April 23, 2012


Hal ini dapat dilihat, terutama pada upacara kematian. Termasuk, rumah-rumah tradisional dengan bentuk atap yang melengkung dengan ukiran indah dan warna yang natural.

Secara geografis, masa sejarah dan prasejarah Sulawesi Selatan menciptakan unsur kebudayaan yang sangat menarik. Siapapun akan tertegun menikmati keunikan itu. Seperti misalnya upacara adat, tarian-tarian tradisional, ukiran, tenunan indah yang terbuat dari sutera dan kapas, serta pemandangan alam tropis yang mempesona.
Tana Toraja, merupakan obyek wisata di Indonesia yang terkenal dengan kekayaan budayanya. Kabupaten yang terletak sekitar 350 km sebelah utara Makassar ini sangat terkenal dengan bentuk bangunan rumah adatnya. Rumah adat ini bernama Tongkonan. Atapnya terbuat dari bambu yang dibelah dan disusun bertumpuk. Tongkonan ini memiliki strata sesuai derajat kebangsawanan masyarakat seperti strata emas, perunggu, besi dan kuningan.
Tana Toraja melekat dengan rumah adatnya yang unik...Tana Toraja melekat dengan rumah adatnya yang unik...Begitu melekatnya image Tana Toraja dengan bangunan rumah adatnya, maka sebagai bentuk promosi pariwisata dan untuk menggaet turis Jepang ke daerah ini, Tongkonan pun dibangun di 'Negeri Matahari Terbit' itu. Bangunannya dikerjakan oleh orang Toraja sendiri dan diboyong oleh pengusaha pariwisata ke Jepang.
Saat ini, di Jepang, sudah ada dua Tongkonan yang sangat mirip dengan Tongkonan yang asli. Kehadiran Tongkonan selalu membuat kagum masyarakat negeri tersebut, karena bentuknya yang unik. Hanya saja, perbedaannya dengan yang ada di Tana Toraja terletak di atapnya yang menggunakan bambu.
Masih banyak lagi daya tarik dari Tana Toraja selain Upacara Adat Rambu Solo (pemakaman) yang sudah kesohor selama ini. Sebutlah kuburan bayi di atas Pohon Tarra di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 kilometer dari Rantepao, yang disiapkan bagi jenazah bayi berusia 0-7 tahun.
Tempat menyimpan jenazahTempat menyimpan jenazahMeski mengubur bayi di atas Pohon Tarra itu sudah tidak dilaksanakan lagi sejak puluhan tahun terakhir, tetapi pohon tempat 'mengubur' mayat bayi itu masih tetap tegak dan banyak dikunjungi wisatawan. Di atas Pohon Tarra dengan lingkaran batang 3,5 meter ini, masih tersimpan puluhan jenazah bayi. Pohon inipun memiliki buah yang mirip dengan buah sukun. Dan, biasa dijadikan sayur oleh penduduk setempat.
Sebelum jenazah dimasukkan ke batang pohon, terlebih dahulu pohon itu dilubangi, kemudian mayat bayi diletakkan di dalamnya. Selanjutnya, ditutupi dengan serat pohon kelapa berwarna hitam. Setelah puluhan tahun, jenazah bayi itu akan menyatu dengan pohon tersebut. Ini suatu daya tarik bagi para pelancong, dan masyarakat Tana Toraja tetap menganggap tempat tersebut suci seperti anak yang baru lahir.
Penempatan jenazah bayi di pohon ini, juga disesuaikan dengan strata sosial masyarakatnya. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu, maka makin tinggi pula tempat bayi yang dikuburkan di batang Pohon Tarra tersebut. Bahkan, bayi yang meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yang berduka. Kalau rumahnya ada di bagian barat pohon, maka jenazah anak akan diletakkan di sebelah barat.
'Terbang' 45 Menit
Cinderamata dan kerajinan tangan masyarakat TorajaCinderamata dan kerajinan tangan masyarakat TorajaUntuk menuju Tana Toraja yang mengagumkan ini, terdapat jalur penerbangan domestik Makassar-Tana Toraja yang saat ini hanya sekali seminggu. Menggunakan pesawat kecil berpenumpang delapan orang, penerbangan memakan waktu 45 menit dari Bandara Hasanuddin, Makassar.
Jika lewat darat, perjalanan yang cukup melelahkan akan dijumpai. Setidaknya, membutuhkan waktu selama tujuh hingga sepuluh jam ke lokasi tujuan.
Adapun event menarik di kawasan wisata ini, yaitu adanya upacara pemakaman jenazah atau Rambu Solo dan Rambu Tuka ('pesta syukuran') yang merupakan kalender tahunan. Selain gelaran itu, para pengunjung dan turis mancanegara juga bisa melihat dari dekat obyek wisata budaya menarik lainnya.
Obyek wisata tersebut, seperti penyimpanan jenazah di penampungan mayat berbentuk 'kontainer' ukuran raksasa dengan lebar 3 meter dan tinggi 10 meter. Serta, yang selalu 'menyihir' adalah Tongkonan yang sudah berusia 600 tahun di Londa, Rantepao.
Keindahan dan keunikan itu adalah sebagian kecil dari sekian banyak kekayaan wisata yang ditawarkan oleh Tana Toraja. Sebagai daerah tujuan wisata andalan Sulawesi Selatan, 'wajahnya' memang begitu cantik. Nah, Anda ingin berkunjung? 


Sumber :http://www.tnol.co.id/id/travel-living/12496-tanah-toraja-keunikan-budaya-yang-mempesona.html#.T5VrxHppWTY

Fenomena Budaya Bali

Posted by Taketo on Senin, April 23, 2012


Nah, kali ini kita akan belajar untuk mengenal tradisi atau budaya umat Hindu di Bali yaitu prosesi Ngaben. Upacara ini ditujukan untuk orang yang sudah meninggal.
Upacara Ngaben atau sering pula disebut upacara Pelebon kepada orang yang meninggal dunia, dianggap sangat penting, ramai dan semarak, karena dengan pengabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya menuju sorga, atau menjelma kembali ke dunia melalui reinkarnasi atau kelahiran kembali.
Karena upacara ini memerlukan tenaga, biaya dan waktu yang panjang dan lumayan besar, hal ini sering dilakukan cukup lama  setelah kematian.
Untuk menanggung beban biaya, tenaga dan lain-lainnya, kini masyarakat sering melakukan pengabenan secara massal / bersama. Jasad orang yang meninggal sering dikebumikan terlebih dahulu sebelum biaya mencukupi, namun bagi beberapa keluarga yang mampu upacara ngaben dapat dilakukan secepatnya dengan menyimpan jasad orang yang telah meninggal di rumah, sambil menunggu waktu yang baik. Selama masa penyimpanan di rumah itu, roh orang yang meninggal menjadi tidak tenang dan selalu ingin kebebasan.
Hari baik biasanya diberikan oleh para pendeta setelah melalui konsultasi dan kalender Bali yang ada. Persiapan biasanya diambil jauh-jauh sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga mempersiapkan “bade dan lembu” terbuat dari bambu, kayu, kertas yang beraneka warna-warni sesuai dengan golongan atau kedudukan sosial ekonomi keluarga bersangkutan.
Pagi hari sebelum upacara Ngaben dimulai, segenap keluarga dan handai taulan datang untuk melakukan penghormatan terakhir dan biasanya disajikan sekedar makan dan minum. Pada tengah hari, jasad dibersihkan dan dibawa ke luar rumah diletakkan di Bade atau lembu yang disiapkan oleh para warga Banjar, lalu diusung beramai-ramai, semarak, disertai suara gaduh gambelan dan “kidung” menuju ke tempat upacara. Bade diarak dan berputar-putar dengan maksud agar roh orang yang meningal itu menjadi bingung dan tidak dapat kembali ke keluarga yang bisa menyebabkan gangguan, dll.
Sesampainya di tempat upacara, jasad ditaruh di punggung lembu, pendeta mengujar mantra – mantra secukupnya, kemudian menyalakan api perdana pada jasad. Setelah semuanya menjadi abu, upacara berikutnya dilakukan yakni membuang abu tersebut ke sungai atau laut terdekat lalu dibuang, dikembalikan ke air dan angin. Ini merupakan rangkaian upacara akhir atas badan kasar orang yang meninggal, kemudian keluarga dapat dengan tenang hati menghormati arwah tersebut di pura keluarga, setelah sekian lama, arwah tersebut diyakini akan kembali lagi ke dunia.
Status kelahiran kembali roh orang yang meninggal dunia berhubungan erat dengan karma dan perbuatan serta tingkah laku selama hidup sebelumnya. Secara umum, orang Bali merasakan bahwa roh yang lahir kembali ke dunia hanya bisa di dalam lingkaran keluarga yang ada hubungan darah dengannya. Lingkaran hidup mati bagi orang Bali adalah karena hubungannya dengan leluhurnya. Setiap orang tahu bahwa di satu saat nanti dia akan menjadi leluhur juga, yang di dalam perjalanannya di dunia lain harus dipercepat dan mendapatkan perhatian cukup bila sewaktu-waktu nanti kembali menjelma ke Pulau yang dicintainya ; Pulau Bali.

Ras Manusia

Posted by Taketo on Senin, April 23, 2012


Ras.
Apakah pengertian dari ras itu? Ras (dari bahasa Prancis race, yang sendirinya dari bahasa Latin radix, "akar") adalah suatu sistem klasifikasi yang digunakan untuk mengkategorikan manusia dalam populasi atau kelompok besar dan berbeda melalui ciri fenotipe, asal-usul geografis, tampang jasmani dan kesukuan yang terwarisi. Di awal abad ke-20 istilah ini sering digunakan dalam arti biologis untuk menunjuk populasi manusia yang beraneka ragam dari segi genetik dengan anggota yang memiliki fenotipe (tampang luar) yang sama.[1] Arti "ras" ini masih digunakan dalam antropologi forensik (dalam menganalisa sisa tulang), penelitian biomedis dan kedokteran berdasarkan asal-usul.
Selain itu, karena di banyak masyarakat, pengelompokan berdasarkan "ras" mengikuti pola pelapisan sosial, bagi ilmuwan sosial yang meneliti kesenjangan sosial, "ras" dapat menjadi variabel yang berarti. Sebagai faktor sosiologis, kategori "ras" dapat secara terbatas mencerminkan penjelasan yang subyektif, mengenai jati diri dan lembaga sosial.
Oleh karena itu, paradigma "ras" yang digunakan dalam berbagai disiplin menekan dengan cara yang beraneka pada sifat biologis atau pada segi konstruk sosial.
Faktor sosio dan ekonomi, berakibatkan penderitaan yang sangat besar di dalam kelompok yang terlantar. Diskriminasi rasial sering bertepatan dengan pola pikir yang rasis , di mana para individu dan ideologi satu kelompok melihat anggota dari kelompok lain sebagai suatu "ras" tertentu yang lebih rendah secara moral.Alhasil, kelompok yang tidak banyak berkuasa sering terasing atau tertindas, sedangkan individu dan lembaga yang dominan dituduh bersikap rasis. Rasism berakibatkan banyak contoh tragedi, termasuk perbudakan dan genosid
Jadi menurut saya, tidaklah begitu penting untuk membanding – bandingkan antara suatu ras dengan ras yang lainnya, karena hal ini akan membuat kita menjadi bersikap rasism. Hal ini  sungguh bukan merupakan hal yang patut dipuji, karena kita semua adalah sama yaitu manusia, yang mempunyai tujuan hidup, mempunya kerabat dan saudara, mempunyai cita – cita, dan menginginkan rasa tenram dan kedamaian menjalani kehidupan didunia ini. Marilah kita bersama – sama menghormati satu sama lain, dengan itu maka pastilah kita akan merasakan kedamaian.

Resep Masakan Favorit

Posted by Taketo on Senin, April 23, 2012




Pada kesempatan kali ini, saya akan memposting resep makanan ringan untuk teman disaat mengisi waktu luang, atau teman untuk menonton bola, untuk menonton tv, makanan ringan ini sangat cocok dengan hal yang saya sebutkan diatas. Saya juga sebenarnya hanya pernah membuat makanan ini sekali saja, tapi untuk coba – coba dirumah siapa tau anda semua tertarik, selamar mencoba :D

Bahan-Bahan :
10 lembar roti tawar tanpa kulit (Tergantung selera, roti tawar dengan kulit juga boleh, tetapi agar lebih mudah digulung disarankan dengan roti ayng tidak memakai kulit )
10 potong sosis, rebus sebentar dengan air mendidih, lau tiriskan
               
Bahan   pencelup:
3 butir telur + 1 sdm tepung terigu, aduk rata
Tepung roti secukupnya, untuk melumuri
Minyak goreng secukupnya

Dengan bahan pencelup ini, maka kita akan dengan mudah menggulung roti tersebut, telur yang kita aduk rata dengan terigu juga agar dapat menempelnya roti saat digulung, jadi tidaj lepas – lepas rotinya :p

Cara Mengolah :
                1. Ambil selembar roti tawar, letakkan sepotong sosis, kemudian gulung roti. Gunakan tusuk gigi untuk merekatkan.
2. Celupkan ke dalam bahan pencelup (adonan telur kocok tepung terigu), upayakan gulungan roti tidak terlepas, angkat.
3.. Panaskan minyak cukup banyak, goreng roti isi sosis keju, sampai permukaannya kecokelatan. Angkat, tiriskan.
4. Siap dihidangkan.
 Sekian yang bisa saya bagikan kepada anda. Saya dengan lapang dada menerima saran dan pendapat lain untuk memasak roti gulung sosis, atau bahkan rekomendasi lain. Terima Kasih :D

  • Facebook
  • Twitter

Search Site